HEREDITAS
EVA YENANI
Walter
Sutton, seorang ahli genetika dari Amerika Serikat menjelaskan, bahwa ada
beberapa hal yang menyebabkan pola-pola hereditas pada manusia bisa muncul.
Antara lain:
·
Karena gen memiliki identitas yang bersifat tetap dan
merupakan karakteristik yang diturunkan oleh orangtua.
·
Pemisahan bebas kromosom enggak homolog dari induk
saat meiosis.
·
Jumlah kromosom dalam sel kelamin yang berjumlah
setengah dari kromosom lengkap (kromosom induk).
·
Pada saat fertilisasi, kromosom yang setengah atau
satu set tadi berpasangan lagi, sehingga muncul sifat baru yang berpola.
Selain
memaparkan tentang adanya pola dalam penurunan sifat, dari penelitiannya saat
mengamati kromosom belalang, Sutton menyimpulkan jika ada kesamaan perilaku
kromosom seperti yang dijelaskan pada hukum pewarisan sifat Mendel.
Jadi,
menurut Sutton, kromosom juga berpisah dan berpasangan bebas saat pembelahan.
Sutton membuat kesimpulan jika gen dalam kromosom lah yang menyebabkan adanya
pewarisan sifat.
Hmmm… Tapi
apa hubungannya dengan pola pewarisan sifat pada hukum Mendel ya? Apa kesamaan
hukum Mendel ini dengan kesimpulannya Sutton?
Jadi,
sebelum Sutton mempublikasikan hasil penelitiannya, teori mengenai pewarisan
sifat ini sudah pernah diperkenalkan sebelumnya. Bahkan, ide untuk meneliti
perilaku kromosom ini juga didapatkan Sutton dari pola pewarisan sifat dari
hukum Mendel lho.
Mumpung
membahas tentang hukum Mendel? Kamu sudah tahu kan apa itu hukum Mendel? Ada
baiknya kita ulas lagi secara singkat ya.
Hukum Mendel
ini ditemukan oleh Gregor Johann Mendel saat melakukan percobaan perkawinan
silang menggunakan tanaman kacang polong. Percobaan itu membuahkan dua hukum
prinsip genetika modern, yaitu Hukum Mendel I dan Hukum Mendel II.
Hukum Mendel I
Hukum yang
dikenal juga sebagai Hukum Segregasi ini menyebutkan bahwa pada pembentukan
gamet, ke dua gen yang berpasangan dipisahkan dalam dua sel anak. Pola-pola
hereditas pada Hukum Mendel I berlaku untuk persilangan monohibrid, atau
persilangan dengan satu sifat yang beda.
Ada tiga hal
yang diamati dalam pola pewarisan sifat pada Hukum Mendel I, antara lain:
·
Setiap gen memiliki bentuk alternatif yang dapat
mengatur variasi karakter turunan. Konsep ini berlaku pada dua macam alel,
yaitu alel resesif dan alel dominan.
·
Setiap individu pasti membawa sepasang gen, yaitu gen
dari tetua jantan dan gen dari tetua betina.
·
Jika pasangan gen ini berasal dari dua alel yang
berbeda, alel yang bersifat dominan akan terekspresikan atau nampak secara
visual. Sementara alel resesif tidak selalu nampak secara visual, namun tetap
mewariskan sifat pada gamet turunannya.
Hukum Mendel II
Hukum ini
dikenal juga sebagai Hukum Asortasi. Dalam Hukum Mendel II disebutkan jika
setiap gen dapat berpasangan secara bebas dengan gen lainnya. Walaupun bebas,
gen yang mengusung satu sifat tidak akan mempengaruhi sifat gen lain yang bukan
termasuk sebagai alelnya.
Hukum Mendel
II ini dijelaskan melalui persilangan dengan dua sifat berbeda (dihibrida)
dengan dua alel yang berbeda pula. Misalnya pada kacang polong, bentuk biji
kacang bulat+keriput disilangkan dengan biji berwarna kuning+hijau. Hasil persilangan
ini menurunkan ciri fisik biji bulat warna kuning, keriput kuning, bulat hijau
dan keriput hijau.
Hal ini
terjadi karena gen melakukan persilangan secara bebas. Hukum Mendel II ini
hanya berlaku pada gen yang letaknya berjauhan. Maka dari itu, hukum ini tidak
berlaku pada persilangan monohibrid.
Nah, itu lah
dua Hukum Mendel yang dijadikan referensi sebagai pola-pola hereditas Walter
Sutton. Selanjutnya, mari kita membahas tentang proses terjadinya pola
hereditas sebagai berikut:
Proses Hereditas`
Secara
morfologis, kamu bisa melihat kalau tubuh kamu memiliki sifat campuran yang
dibawa dari kedua orangtuamu. Misalnya, kamu memiliki rambut ikal dan tubuh
yang tinggi seperti ibumu, kulit kamu putih dan berhidung mancung seperti
ayahmu. Ini terjadi karena pewarisan sifat orangtua pada anak tidak diturunkan
begitu saja, melainkan ada proses yang membuat gen masing-masing orang tua kamu
akhirnya bisa menurunkan sifatnya.
Dalam tubuh
setiap makhluk hidup seperti manusia dan hewan, ada yang namanya sel somatik
atau sel tubuh. Sel somatik ini memiliki sifat diploid, yang artinya sel
tersebut memiliki dua set kromosom. Nah, masing-masing orangtua akan mewariskan
satu set kromosomnya pada anaknya.
Jadi,
sebelum kamu jadi diri kamu yang sekarang, sebenarnya kamu adalah sel yang
berasal dari bertemunya sel sperma milik ayah kamu dan sel ovum milik ibu kamu.
Sel sperma dan sel ovum yang dilepaskan oleh ayah dan ibu kamu ini akan menjadi
sel gamet.
Sel gamet
inilah yang memiliki sifat haploid alias membawa satu set kromosom saja untuk
kelak menjadi anak. Kromosom ini ada di dalam sel.
Kenapa Ada Pola Hereditas?
Di dalam sel
ada organel sel yang disebut inti. Di dalam inti ini ada kromosom-kromosom yang
berisi materi genetik yang disebut DNA. Nah, di dalam untaian DNA-DNA ada gen.
Gen-gen inilah yang nantinya menentukan sifat sang anak.
Seperti yang
dikatakan oleh Walter Sutton, identitas gen tidak akan berubah, meskipun
nantinya terjadi pembelahan mitosis dan meiosis pada sel. Sifat yang dibawa gen
akan selamanya begitu. Bahkan, saat meiosis terjadi, dua set kromosom yang
berasal dari kedua induk memisahkan diri secara bebas.
Dua set
kromosom ini kemudian akan berkelompok secara bebas dengan kromosom lain yang
tidak homolog. Maksudnya, kromosom tersebut nggak berpasangan dengan kromosom
yang berasal dari gen yang sama.
Contoh Pewarisan Sifat
Sifat pada
gen yang dibawa kromosom tersebut nggak bakal berubah. Misalnya seperti yang
dijelaskan di atas, kamu memiliki rambut lurus seperti ayahmu, jadi gen penentu
bentuk rambut ini nggak bisa berubah Pahamifren.
Gen ini baru
akan berubah saat bertemu dengan pasangannya dari ovum. Saat dua sel tadi
bertemu, berfertilisasi dan menjadi dua set kromosom lagi, kamu akan
mendapatkan gen penentu sifat. Ini terjadi karena gen dalam dua set kromosom
yang berpasangan, saling menunjukkan ekspresinya.
Jadi, kalau
kamu memiliki rambut ikal seperti ibu, padahal ayah kamu berambut lurus, ini
artinya gen yang dibawa oleh ibu kamu memiliki sifat gen yang lebih kuat. Sifat
gen ibu kamu yang lebih kuat ini dikenal dengan istilah gen dominan. Sedangkan
untuk gen ayah kamu yang tertutupi gen ibu kamu, memiliki sifat yang lemah,
yang dikenal dengan istilah gen resesif.
Bagaimana,
sudah paham kan? Itulah ulasan mengenai materi Biologi kelas 12 tentang
pola-pola hereditas. Buat kamu yang ingin makin paham, kamu bisa mengunduh aplikasi
pelajaran SMA Pahamifren. Selain materi Biologi, ada berbagai materi menarik
lain yang bisa kamu pelajari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah mengunjungi blog ini semoga bermanfaat